Beranda > Tak Berkategori > pernikahan

pernikahan

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Nikah adalah salah satu asas pokok hidup yang paling utama dalam pergaulan atau masyarakat yang sempurna. Pernikahan itu bukan saja merupakan satu jalan yang amat mulia untuk mengatur kehidupan rumah tangga dan keturunan, tetapi juga dapat dipandang sebagai satu jalan menuju pintu perkenalan antara suatu kaum dengan kaum lain, dan perkenalan itu akan menjadi jalan untuk menyampaikan pertolongan antara satu dengan yang lainnya.

Sebenarnya pertalian nikah adalah pertalian yang seteguh-teguhnya dalam hidup dan kehidupan manusia, bukan saja antara suami istri dan keturunannya, melainkan antara dua keluarga. Betapa tidak? Dari baiknya pergaulan antara si istri dengan suaminya, kasih-mengasihi, akan berpindah kebaikan itu kepada semua keluarga dari kedua belah pihaknya, sehingga mereka menjadi satu dalam segala urusan bertolong-tolong sesamanya dalam menjalankan kebaikan dan mencegah segala kejahatan. Selain itu, dengan penikahan seseorang akan terpelihara dari kebinasaan hawa nafsunya.

Islam sebagai agama universal menganggap pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan telah mengaturnya dengan sangat baik  dalam sebuah undang-undang yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya dalam Al Quran dan Hadits. Para ulama dari sekian madzhab yang ada telah mengarang beribu-ribu kitab fiqh yang didalamnya juga menerangkan tentang masalah pernikahan. Dari sini pemakalah mencoba untuk menjelaskan lebih dalam tentang pernikahan dalam prespektif hukum Fiqh. Di dalam makalah ini kami juga sedikit menyinggung tentang masalah poligami, boleh atau tidaknya beserta dalil-dalilnya.

Permasalahan

  1. Apa yang dimaksud dengan nikah?
  2. Bagaimana hukum nikah?
  3. Apa saja syarat dan rukun nikah?
  4. Bagaimanakah nikah yang dilarang?
  5. Apa saja hak-hak serta kewajiban suami istri?
  6. Apa dalil-dalil yang membolehkan dan melarang poligami?

Tujuan

  1. Untuk mengetahui pengertian nikah
  2. Untuk mengetahui hukum nikah
  3. Untuk mengetahui syarat dan rukun nikah
  4. Untuk mengetahui nikah yang dilarang oleh agama islam
  5. Untuk mengetahui hak-hak serta kewajiban suami istri
  6. Untuk mengetahui dalil-dalil yang membolehkan dan melarang poligami

BAB II

PEMBAHASAN

Pengertian Nikah

Secara bahasa : mengumpulkan, bersetubuh, akad.

Menurut Ulama’ Hanafi dan Maliki  nikah adalah akad yang memberikan faidah milik dengan tujuan untuk bersenang-senang (bersetubuh), sedangkan menurut Ulama’ Syafi’i dan Hambali nikah adalah akad yang mengandung makna kebolehan untuk melakukan hubungan seksual dengan lafadz inkah (menikahkan) atau tazwij (mengawinkan).

Dari definisi para ulama’ di atas dapat disimpulkan bahwa nikah adalah suatu akad yang ditetapkan oleh syari’at untuk mengatur bagaimana seorang suami mengambil manfaat atas diri istrinya. Karena dengan akad nikah seorang suami memiliki kewenangan atas istrinya untuk berhubungan seksual ataupun yang lainnya

Hukum Nikah

Para fuqaha mengklasifikasikan hukum nikah menjadi 5 kategori yang dikembalikan kepada kondisi pelakunya :

1)      Wajib, bila nafsu mendesak, mampu menikah dan berpeluang besar jatuh ke dalam zina.

2)      Sunnah, bila nafsu mendesak, mampu menikah tetapi dapat memelihara diri dari zina.

3)      Mubah, bila tak ada alasan yang mendesak/mewajibkan segera menikah dan/atau alasan yang mengharamkan menikah.

4)      Makruh, bila nafsu tak mendesak, tak mampu memberi nafkah tetapi tidak merugikan isterinya.

5)      Haram, bila nafsu tak mendesak, tak mampu memberi nafkah sehingga merugikan isterinya.

Rukun Dan Syarat Sah Nikah

Akad nikah tidak akan sah kecuali jika terpenuhi rukun-rukun yang enam perkara ini :

  1. Islam menjadikan Ijab (pernyataan wali dalam menyerahkan mempelai wanita kepada mempelai pria) dan Qabul (pernyataan mempelai pria dalam menerima ijab) sebagai bukti kerelaan kedua belah pihak. Al Qur-an mengistilahkan ijab-qabul sebagai miitsaaqan ghaliizhaa (perjanjian yang kokoh) sebagai pertanda keagungan dan kesucian, disamping penegasan maksud niat nikah tersebut adalah untuk selamanya.

Syarat ijab-qabul adalah :

a) Diucapkan dengan bahasa yang dimengerti oleh semua pihak yang hadir.

b) Menyebut jelas pernikahan & nama mempelai pria-wanita

  1. Adanya mempelai pria.

Syarat mempelai pria adalah :

a) Muslim & mukallaf (sehat akal-baligh-merdeka); sebagaimana disebutkan dalam QS. Al Baqarah : 221 dan  Al Mumtahanah : 9.

b) Bukan mahrom dari calon isteri.

c) Tidak dipaksa.

d) Orangnya jelas.

e) Tidak sedang melaksanakan ibadah haji.

  1. Adanya mempelai wanita.

Syarat mempelai wanita adalah :

a) Muslimah (atau beragama samawi, tetapi bukan kafirah/musyrikah) & mukallaf; lihat QS. Al Baqarah : 221, Al Maidah : 5.

b) Tidak ada halangan syar’i (tidak bersuami, tidak dalam masa ‘iddah & bukan mahrom dari calon suami).

c) Tidak dipaksa.

d) Orangnya jelas.

e) Tidak sedang melaksanakan ibadah haji.

  1. Adanya wali.

Syarat wali adalah :

a) Muslim laki-laki & mukallaf (sehat akal-baligh-merdeka).

b) ‘Adil

c) Tidak dipaksa.

d) Tidak sedang melaksanakan ibadah haji.

Tingkatan dan urutan wali adalah sebagai berikut:

a) Ayah

b) Kakek

c) Saudara laki-laki sekandung

d) Saudara laki-laki seayah

e) Anak laki-laki dari saudara laki – laki sekandung

f) Anak laki-laki dari saudara laki – laki seayah

g) Paman sekandung

h) Paman seayah

i) Anak laki-laki dari paman sekandung

j) Anak laki-laki dari paman seayah

k) Orang yang memerdekakan, dan

l)  Hakim

  1. Adanya saksi (2 orang pria).

Meskipun semua yang hadir menyaksikan aqad nikah pada hakikatnya adalah saksi, tetapi Islam

mengajarkan tetap harus adanya 2 orang saksi pria yang jujur lagi adil agar pernikahan tersebut

menjadi sah. Syarat saksi adalah:

a) Muslim laki-laki & mukallaf (sehat akal-baligh-merdeka)

b) ‘Adil

c) Dapat mendengar dan melihat.

d) Tidak dipaksa.

e) Memahami bahasa yang dipergunakan untuk ijab-qabul.

f) Tidak sedang melaksanakan ibadah haji.

  1. Mahar.

Beberapa ketentuan tentang mahar :

a)      Mahar adalah pemberian wajib (yang tak dapat digantikan dengan lainnya) dari seorang suami

kepada isteri, baik sebelum, sesudah maupun pada saat aqad nikah. Lihat QS. An Nisaa’ : 4.

b)       Mahar wajib diterimakan kepada isteri dan menjadi hak miliknya, bukan kepada/milik mertua.

c)      Mahar yang tidak tunai pada akad nikah, wajib dilunasi setelah adanya persetubuhan.

d)     Mahar dapat dinikmati bersama suami jika sang isteri memberikan dengan kerelaan.

e)      Mahar tidak memiliki batasan kadar dan nilai. Syari’at Islam menyerahkan perkara ini untuk disesuaikan kepada adat istiadat yang berlaku. Boleh sedikit, tetapi tetap harus berbentuk, memiliki nilai dan bermanfaat. Rasulullah saw senang mahar yang mudah dan pernah pula

Larangan Menikah

Allah SWT berfirman yang artinya:

“dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”.

“diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

عن أبى هريرة رضي الله عنه أنّ رسول الله صلّى الله عليه و سلّم قال: لاَ يُجْمَعُ بَيْنَ المَرْأَةِ وَ عَمَّتِهاَ وَ لاَ بَيْنَ المَرْأَةِ وَ خَالَتِهاَ. متّفق عليه

Dari sahabat Abu Hurairah R.A: Sesungguhnya Rasulullah SAW berkata: “janganlah dikumpulkan seorang perempuan dengan bibinya (saudari kandung ayahnya) dan jangan pula dengan kholahnya (saudari kandung ibu)”. (Muttafaqun ‘alaihi)

عن عثمان رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلّى الله عليه و سلّم : لاَيُنْكِحُ المُحْرِمُ وَ لاَ يُنْكَحُ. رواه المسلم

Dari sahabat utsman R.A berkata: Rasulullah SAW berkata: “Orang yang sedang berihram tidak boleh menikahkan dan tidak boleh dinikahkan”. (H.R Muslim)

Poligami antara pro dan kontra

Idealnya dalam kehidupan berumah tangga seorang suami memiliki cukup seorang istri saja dan tidak lebih dari itu. Hal  itu adalah puncak kesempurnaan dalam kehidupan rumah tangga yang seharusnya dijaga oleh tiap manusia di dunia ini. Tetapi terkadang kita dihadapkan pada masalah yang menarik kita untuk beristri lebih dari satu (berpoligami). Misalnya jika seorang suami memiliki kelainan seksual (hiperseks) menganggap bahwa seorang istri masih belum cukup dalam menjaganya dari zina, atau sang istri memiliki siklus haid yang panjang dengan masa suci yang pendek sedang ia kuatir tidak kuat menunggu sehingga terjerumus dalam perzinahan. Maka dalam hal ini ia diperbolehkan untuk berpoligami tetapi dengan syarat-syarat tertentu.

Islam memperbolehkan poligami karena adanya kemaslahatan didalamnya. sebelum turun ayat ini poligami sudah ada, dan pernah pula dijalankan oleh Para Nabi sebelum Nabi Muhammad s.a.w. Al quran  membatasi poligami sampai empat orang saja.

Allah berfirman dalam Q.S. An Nisa’ ayat 3 :

“dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat”.

Berlaku adil ialah perlakuan yang adil dalam meladeni isteri seperti pakaian, tempat, giliran dan lain-lain yang bersifat lahiriyah.

و عن سالم عن أبيه رضي الله عنه أن غيلان بن سلمة أسلم و له عشر نسوة فأسلمن معه, فأمره النبي صلّى الله عليه و سلّم أن يتخير منهنّ أربعاً. رواه أحمد و الترمذي

Dan dari Salim dari ayahnya R.A sesungguhnya Ghoilan bin Salamah masuk Islam dan dia mempunyai 10 istri kemudian mereka ikut masuk Islam bersama Ghoilan, maka Rasulullah SAW memerintahkan untuk memilih 4 orang dari mereka. (H.R Ahmad dan Turmudzi).

Akan tetapi disamping membolehkan poligami Al Quran juga menyebutkan larang untuk melakukan poligami jika syarat-syarat yang tersebut di atas tidak dipenuhi oleh sang suami.

Ayat yang mengandung larangan untuk berpoligami :

dan kamu sekali-kali tidak akan dapat Berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. dan jika kamu Mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Para penentang poligami mengatakan bahwa : itu adalah dalil bahwa poligami  haram sebab dalam ayat tersebut  dijelaskan ketidak mungkinan bagi para suami untuk berlaku adil.

Dari dalil-dalil di atas dapat dipahami bahwa poligami itu boleh berdasarkan surat An Nisa’ ayat 3 di atas tetapi dengan syarat-syarat yang diberatkan yaitu adil, baik dalam hal pembagian giliran, tempat tinggal, serta uang belanja tiap harinya, sedangkan pada surat An Nisa’ ayat 129 disebutkan bahwa tidak ada seorangpun yang mampu berbuat adil terhadap istri-istrinya. Para mufassirin menjelaskan bahwa ketidakmampuan untuk berbuat adil yang dimaksud dalam ayat ini adalah dalam hal rasa cinta dan kasih sayang bukan ketidakmampuan untuk adil dalam memberi giliran dan nafkah lahiriyah.

Walaupun Islam mengakui dan membolehkan poligami akan tetapi Islam tidak menganjurkan tiap pemeluknya untuk berpoligami sebagaimana dipahami oleh para pengikut syahwat sekarang ini, karena dasar hukum diperbolehkannya poligami ini adalah karena kebutuhan darurat dan adanya kemaslahatan di dalamnya. Hal ini dikuatkan oleh dalil-dalil Al Quran yang melarang poligami lebih banyak daripada dalil-dalil yang membolehkannya.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

  1. Nikah adalah suatu akad yang ditetapkan oleh syari’at untuk mengatur bagaimana seorang suami mengambil manfaat atas diri istrinya.
  2. Hukum nikah ada 5 macam : wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram.
  3. Akad nikah tidak akan sah kecuali jika terpenuhi rukun-rukun yang enam perkara ini :
    1. Ijab dan qobul
    2. Adanya mempelai pria.
    3. Adanya mempelai wanita.
    4. Adanya wali.
    5. Adanya saksi (2 orang pria).
    6. Mahar.
    7. Bahwa poligami itu boleh berdasarkan surat An Nisa’ ayat 3 dengan syarat-syarat yang diberatkan yaitu adil, baik dalam hal pembagian giliran, tempat tinggal, sertta nafkah lahiriyah. Tetapi tidak dianjurkan oleh agama karena dasar hukum pembolehannya adalah darurat dan dalil-dalil Al Quran yang melarang poligami lebih banyak daripada dalil-dalil yang membolehkannya.

DAFTAR PUSTAKA

–         Dewantoro Sulaiman, SE, Agenda Pengantin, Hidayatul Insan, Solo, 2002.

–         Rasjid, Sulaiman, H., Fikh Islam, Sinar Baru Algesindo, Bandung, 1996

–         Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, Kencana: Jakarta.       2007

–         Al-Hamdani, Risalah an-Nikah, Pustaka Amani: Jakarta. 2002

–     Al jaziriy, Abdurrahman, Kitabul Fiqhi ‘Ala Madzahibil Arba’ah, Darul Kutub Al   Ilmiyah: Lebanon, 2006

–     Ruyd, Ibnu, Bidayatul Mujtahid, Darul Kutub Ilmiyah: Lebanon, 1997

Kategori:Tak Berkategori
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: